Sabtu, 16 Juli 2016

Definisi “Negara”

24 Agustus 2010

oleh Sidi Umar Ibrahim Vadillo

Pengantar


Perampok jalanan melompat dari belakang pohon, dengan pedang di tangan, dan berhadapan dengan seorang pria berpakaian rapi. “Serahkan uang Anda,” teriak si perampok. Korban yang dirampoknya berkata, “Dasar goblok!… Gue pemimpinnya!” Si perampok menurunkan pedangnya dan mengulurkan tangan. “…serahkan uang SAYA.”

Puisi yang bagus seperti humor memberi makna baru kepada perkataan. Puisi seharusnya menimbulkan paksaan introspeksi untuk melihat isu dan masalah dari perspektif baru. Ini penting, karena kebanyakan dari kita tidak kritis dan tanpa sadar menyerap pendirian politik dan moral dari orang tua dan teman-teman, dari sekolah dan media. Dengan demikian, puisi dapat sangat membingungkan dan sama-sama mengancam konsep diri yang rapuh. Melihat dunia melalui lensa baru memerlukan satu periode penyesuaian yang menggoncang. Maka, untuk menjadi efektif, seorang penyair harus menjaga pendengarnya yang menjadi bingung, membiarkan mereka terhuyung-huyung. Menyebabkan kenyamanan adalah hal yang paling tegas bukan tujuan dari seorang penyair yang baik.

Kami hanya menunjukkan bahwa kami tidak bisa memberikan validitas untuk sebuah kata hanya karena kita merasa nyaman dengan itu. Nilai dari sebuah kata, adalah bahwa kata itu membantu Anda untuk memahami, membedakan, dan mengidentifikasi. Dalam perkara kita, sebuah definisi yang bagus mengenai Negara hendaknya memberi kita pemahaman mengenai institusi ini dan dengan perpanjangan dari masyarakat kita. Definisi itu seharusnya membantu kita untuk bertindak. Dan karena kita adalah Muslim implikasinya adalah memahami dari perspektif Islam, dan bertindak bermakna bertindak fisabilillah. Dalam cahaya inilah sehingga saya menilai pentingnya menciptakan definisi baru mengenai Negara. Apakah kita suka atau tidak, nilai budaya dan sejarah kita dibenamkan dalam bahasa. Ketika kita menantang bahasa –inilah yang dilakukan oleh seorang penyair- kami menantang nilai sejarah dan budaya dari masyarakat kita. Bagi kami ini harus dilakukan untuk mendirikan pemahaman hidup Islam kita. Ini penting. Bahasa kita harus merefleksikan siapa kita.

Kata-kata adalah jendela yang membuka “dunia” di hadapan kita. Kata apa yang kita gunakan dan bagaimana kita menggunakan kata-kata itu menentukan cara kita melihat dunia. Saya menempa definisi Negara ini, di luar kepentingan. Saya tidak bahagia dengan definisi yang ada saat ini. Definisi yang ada terlalu samar-samar untuk menciptakan identitas atau terlalu partisan untuk mengenali masalah. Definisi ini tampaknya menyepelekan apa yang saya sebut “peristiwa”. Peristiwa ini ialah pernikahan antara perbankan dan pemerintah yang terjadi di suatu tempat di masa lalu. Peristiwa ini bukanlah apapun. Peristiwa ini adalah langkah evolusioner besar dalam sejarah kita dan konsekuensinya bahkan lebih besar karena dapat dirasakan sampai sekarang. Sebagai hasil dari peristiwa ini cara orang berinteraksi dengan pemerintah berubah, termasuk bagaimana pendapatan dikumpulkan, penciptaan hutang, cara mengakumulasikan modal, makna dari uang dan investasi, dan banyak isu kolateral lain yang melibatkan basis perdagangan dan keuangan antara negara-negara. Pendeknya, hampir setiap cara kita berhubungan satu sama lain berubah selamanya. Dunia berubah selamanya setelah peristiwa ini. Namun, saya menyadari, tidak seorangpun menamai institusi baru ini. Institusi ini lebih dari sekedar pemerintah, lebih dari sekedar perbankan. Tetapi tidak memiliki nama yang cukup memadai. Ini berbahaya, karena jika Anda tidak dapat menamainya, Anda tidak dapat memikirkannya.

Peristiwa itu
Peristiwa yang saya rujuk terjadi di Inggris di tahun 1694 dengan lahirnya Bank of England sebagai Bank nasional. Bank of England ini bukanlah bank nasional pertama. Dua bank nasional lain diciptakan sebelum Bank of England. Bank nasional pertama adalah Banco de Spiritus Sanctus atau Bank Roh Kudus (nama yang menakjubkan!) yang menjadi Bank nasional pertama di tahun 1605 dari, Negara apa? Tidak satupun selain Vatikan. Bank tersebut, didanai oleh Paus Paul V, sudah berhenti melakukan keajaiban finansial untuk sang Paus – sekarangberada di tangan Negara Italia- tetapi Vatican memiliki bank resminya sendiri, yang dengan penuh iman disebut Institute for Religious Works. Bank nasional kedua adalah Bank of Sweden (Sveriges Riksbank) didirikan di tahun 1668. Alasan kenapa kami memilih Bank of England sebagai hari lahir Negara adalah karena hanya Inggris lah dengan memancung Raja mereka dan penciptaan Parlemen memiliki ilmu kimia sosial yang benar untuk memicu bentangan lembaga yang belum pernah terjadi sebelumnya, Negara. Hanya di Inggris, dan untuk pertama kali, hutang dari Raja yang berkuasa memiliki syarat untuk menjadi apa yang menjadi lazim diketahui sebagai Hutang Nasional. Sebuah konsep yang dengan jalan mana hutang dibuat oleh Raja yang berkuasa, tidak lagi menjadi miliknya, tetapi seluruh bangsa.

Ini bukan berarti bahwa di tahun 1694, Negara, dengan semua aspek yang kita ketahui sekarang, tiba-tiba muncul begitu saja. Tidak, Negara secara berangsur berkembang di tahun-tahun berikutnya. Apa yang terjadi tahun tersebut, adalah berkumpulnya dua lembaga perbankan dan pemerintah dalam mode baru yang menciptakan campuran yang diperlukan untuk terbukanya Negara. Kita dapat berkata bahwa benih Negara diciptakan. benih ini mengandung potensi untuk semua fasilitas yang ada untuk bertumbuh di tahun-tahun mendatang. Benih ini mengandung unsur-unsur pelopor dari Bank Sentral, uang fiat dan utang nasional. Bagaimana hal ini terjadi? Dan apa yang terjadi?

Revolusi selesai, dan Dutch William of Orange bertahta di Inggris (1689-1702) sebuah iklim penemuan dan eksperimen dengan persoalan uang berjalan baik di Inggris. Inilah jamannya perusahaan yang berburu harta karun, skema “pembuatan uang dengan cepat” dan rancangan perbankan baru. Semuanya didorong lebih jauh lagi dengan bom kecil di tahun 1692-5. Dalam keadaan seperti inilah Bank of England lahir.

Pada saat itu, Inggris betul-betul mengalami kesulitan keuangan setelah perang setengah abad. Tidak mampu meningkatkan pajak dan tidak mampu meminjam, Parlemen putus asa terhadap adanya jalan lain untuk memperoleh uang. Ada dua kelompok orang yang melihat kesempatan untuk mengail di air keruh. Kelompok pertama terdiri dari ilmuan politik di dalam pemerintah. Kelompok kedua terdiri dari ilmuan moneter dari bisnis perbankan yang sedang bangkit.

Kesempatan datang di tahun 1694, ketika Raja perlu uang untuk mempersiapkan bala tentara guna berperang dengan Perancis. Raja mendatangi pedagang kaya dan bankir goldsmith di London untuk memperoleh uang ini. Beberapa skema bank umum diajukan. Akhirnya, William Patterson, seorang berkebangsaan Skotlandia, menghadapi beberapa sindikat dan membuat sebuah proposal meniru usaha sukses yang sama di Itali dan Belanda (terutama Bank of Amsterdam yang didirikan di tahun 1609 – dilihat oleh banyak orang sebagai bapak perbankan moderen). Setelah beberapa usaha yang gagal, dia dan para pedagang di belakangnya akhirnya terbukti berhasil.

Patterson menulis presentasi singkat untuk penawaran saham awal dengan judul “Catatan Singkat dari Tujuan Bank of England” [dikutip oleh Prof. Carroll Quigley dari Universitas Georgetown, dalam “Tragedy and Hope: A History of the World in Our Time”, 1966], di mana dia menulis: “bank memperoleh keuntungan dari bunga atas semua uang yang diciptakan dari ketiadaan.” Kalimat sederhana ini, oleh Bankir Sentral pertama dunia, akan menjadi isu kunci untuk tujuan moneter yang mencengkeram dunia selama tiga ratus tahun berikutnya.

Makna dari kalimat itu adalah bahwa “di bawah otoritas pemerintah” Bank of England menerbitkan uang kertas yang diciptakan “dari ketiadaan”, yang pada gilirannya dipinjamkan dengan bunga kepada peminjam uang dari berbagai golongan. Bank komersial telah melakukani ini sebelumnya, tetapi sekarang didorong oleh “otoritas rakyat”, Parlemen. Arti “dari ketiadaan” adalah bahwa uang kertas Bank of England hanya sebagian disandarkan pada emas atau perak, bukanlah poin dari konvertibilitas yang lengkap. Dari awal mula Bank tidak pernah mengakui untuk mengeluarkan uang sesuai dengan jumlah koin dan emas batang, walaupun, tentu saja, ia membuat liabilitasnya sejajar dengan asetnya. Isu ini tetap menjadi misteri bagi banyak orang sampai hari ini. Bagaimana liabilitas bisa sama dengan aset, sedangkan uang kertas kuitansi lebih banyak dari logam mulia yang diwakilinya? Isunya ada di jantung perbankan itu sendiri, tetapi kita meninggalkan isu akuntansi “sihir” untuk kesempatan lain, kita hanya sebatas merujuk kepada fractional reserve banking, artinya, kemampuan bank untuk meminjamkan lebih dari yang dia punya dalam bentuk tunai atau menciptakan uang “dari ketiadaan”.

Awal Mei 1694 parlemen mengesahkan sebuah undang-undang yang menetapkan pajak atas tonase kapal yang diharapkan memberi pemasukan £140.000 per tahun. £100.000 nya dialokasikan untuk membayar bunga (sebesar 8% per tahun) pada pinjaman £1,2 juta baru yang dipinjam oleh pemerintah dari Bank. Pinjaman tersebut “hanya” menutupi sekitar ¼ dari belanja tahunan atas Perang Sembilan Tahun (1689-97) dengan Perancis.

Pinjaman £1,2 juta dibayarkan kepada Bendahara dalam angsuran antara bulan Agustus dan bulan Desember. Pemegang saham menerima bunga 8% dari jumlah penuh pinjaman, walaupun sebetulnya mereka “hanya” meminjamkan £720.000 dalam bentuk tunai, sisanya diciptakan “dari ketiadaan”. Pinjaman itu dibayarkan kepada pemerintah dengan dana tunai dari pemegang saham, yang pada bulan November telah memasok 60% dari jumlah yang mereka telah janjikan untuk dibayar. Sisanya dibayar oleh ilusi yang bernama “nota berstempel”: yakni £1000 dalam bentuk nota kertas yang distempel dengan stempel perusahaan Bank. Pemerintah menggunakan nota-nota kertas ini untuk membayar para pemasoknya. Karena nota-nota ini berbunga sekitar 3% per tahun, banyak digunakan sebagai investasi; adapun sedikit bagian yang dikembalikan ke Bank untuk ditukar dengan uang tunai diterbitkan kembali dan digunakan dalam pinjaman berikutnya.

Bank memiliki fungsi ganda: mengatur akun pemerintah dan memberi pinjaman untuk membiayai pemerintah sekaligus beroperasi sebagai bank komersial: mengambil deposit dan menerbitkan nota untuk pelanggan perorangan. Banyak bagian dana tunai dari pemegang saham digunakan bukan untuk pinjaman perang tetapi untuk mengedarkan nota berstempel yang diterbitkan kepada peminjam perorangan, yang memberi keuntungan lebih banyak lagi.

Undang-undang yang sah telah menetukan dua batasan penting: Bank dapat meminjamkan tidak lebih dari £1,2 juta kepada pemerintah tanpa dispensasi parlemen dan dapat menerbitkan tidak lebih dari £1,2 juta dalam bentuk nota berstempel. Batasan pertama sesungguhnya membuktikan sebuah aset, karena pada tahun berikutnya atau dua direktur Bank sering membuatnya sebagai alasan untuk menolak pinjaman lebih banyak kepada Raja (pinjaman yang mereka berikan dengan segan). Tetapi plafon atas nota berstempel adalah paksaan yang sesungguhnya. Direktur Bank menghindarinya dengan mengeluarkan apa yang mereka sebut “nota tunai yang berjalan”. Ketimbang distempel dengan stempel bank, nota dengan satuan kecil ini hanya ditandatangani oleh kasirnya dan tidak menanggung bunga (tidak seperti nota berstempel). Banyak kritik berdatangan tetapi nota-nota ini tetap berlanjut peredarannya. “Nota tunai yang berjalan” ini kenyataannya menjadi pelopor dari uang kertas yang berlaku saat ini.

Pada February 1695, bank telah meminjamkan kepada Pemerintah bukan hanya keseluruhan dari jumlah semula yang £1.200.000, tetapi pinjaman lebih banyak sebesar £300.000. Tetapi bahkan ada pengiriman uang lebih besar lagi yang dilakukan dalam delapan belas bulan berikutnya. Pemerintah tidak dapat berhenti meminjam, sebab itu berarti menghentikan batasan yang telah dijatuhkannya pada diri sendiri. Pemerintah baru menemukan kemungkinan dari sebuah sarana pembiayaan yang “hampir” tidak pernah berakhir. Tetapi tentu saja masalah mulai terjadi.

Uang yang diciptakan oleh Bank of England mengguyur ekonomi seperti hujan di bulan Januari. Sebagai akibatnya, ketika nota bank yang banyak ini tiba di tangan bank lain, mereka cepat-cepat menaruhnya di dalam ruangan besi lalu mengeluarkan sertifikat mereka sendiri dalam jumlah yang bahkan lebih besar. Sebagai hasilnya, harga-harga naik dua kali lipat dalam waktu dua tahun. Lalu, hal yang tidak dapat dihindari terjadi: Penarikan besar-besaran di bank, dan Bank of England tidak dapat memproduksi koin. Pada bulan Mei 1696, hanya dua tahun setelah bank dibuat, sebuah hukum disahkan supaya bank dapat “menunda pembayaran dalam specie” [menunda pembayaran dalam emas sesuai dengan nilai yang tertera di atas nota]. Dengan paksaan hukum, Bank sekarang dibebaskan dari keharusan untuk menghormati kontrak mengembalikan emas. Uang fiat telah lahir. Dengannya, satu dari fitur kunci Negara moderen telah lahir.

Dengan dua peristiwa ini institusi lain telah lahir: Bank Sentral dan Hutang Nasional. Akibatnya Bank Sentral ada bersama kita sekarang ini dan telah menjadi institusi dominan dalam ekonomi saat ini dan hutang nasional yang kita, sebagai warga negara, masih teruskan dan secara keseluruhan, kenyataannya tidak dapat dibayar. Warga negara Inggris masih belum dapat membayar hutang tiga ratus tahun kemudian. Sekarang hutang nasional Inggris adalah 1 triliun pounds.

Pada tahun 1694, Bank of England masih belum menjadi bank sentral dalam pengertian moderen tapi masih berupa benih. Kapasitas untuk bertindak sebagai ‘biang rentenir’ dan pengatur dari aktivitas keuangan di dalam ekonomi dalam skala besar dikembangkan secara bertahap selama abad berikutnya seiring dengan kerumitan dari perkembangan sistim keuangan.

Karena pemerintah terus-menerus meminjam uang, pinjaman yang terus menerus ini disebut Hutang Nasional. Hutang ini berbeda dari sebelumnya. Hutang yang tidak terbatas ini terus-menerus ada. Namun, bagaimana raja dapat memenuhi janjinya untuk membayar, adalah masalah kritis. Gagal bayar telah menjadi fenomena biasa di Inggris sejak jaman pertengahan. Di jaman pertengahan, pengumpulan pajak adalah pekerjaan yang sangat sulit; raja sering mengirim agen lokal dan pejabat negeri untuk mengumulkan pajak untuk melanggengkan kekuasaan, sebuah praktek yang dengan anehnya disebut tax farming. Secara umum, agen-agen atau pejabat-pejabat negeri ini memiliki hak istimewa pembebasan pajak, mempersempit dasar pengenaan pajak dan mengurangi hasil pajak. Pajak tidak pernah cukup. Meminjam untuk menutupi kekurangan pendapatan dari pajak adalah satu-satunya pilihan. Karena pilihan terbaik raja adalah gagal bayar kepada kreditur. Walaupun kerjasama dengan kreditur tampak sebagai pilihan terbaik, hal ini tidak selalu dimungkinkan. Kreditur (yang kemudian menjadi bankir) dan Raja memiliki hubungan yang sulit. Kerjasama tidak dapat menjadi kenyataan. Hal ini senantiasa berubah dengan Bank of England.

Berdirinya Bank of England mengubah insentif (Negara) berdaulat itu untuk menerima hutang. Hutang itu dapat dengan mudah disebarkan kepada seluruh rakyat dengan mekanisme baru: diterbitkannya uang kertas yang tidak dapat ditebus atau dapat ditebus sebagian. Berkat Bank, Negara mampu membuat hutangnya dapat dipercaya. Itu bukanlah hutang “nya” itu adalah hutang “nasional”. Negara menyediakan Hukum untuk membuat uang baru itu menjadi sah, bank dapat menyediakan sebanyak-banyak uang. Kedua lembaga itu baik Bank maupun Negara tampaknya mendapatkan keuntungan dan keduanya dapat bekerja sama untuk pertama kalinya dalam sejarah. Hal ini bahkan mengubah insentif (Negara) berdaulat untuk menerima lebih banyak hutang. Mulai saat ini dan seterusnya, hutang yang terus-menerus dibuat mencapai tingkat yang tidak dapat diramalkan dalam sejarah. Hutang ini menggerakkan kebangkitan luar biasa lembaga perbankan dan mengangkat derajatnya dari orang pinggiran kepada kekuasaan yang tinggi dengan menjadi majikan baru ekonomi.

Perlunya sebuah nama
Dari jamannya Caesar sampai hari ini, kita telah melihat banyak bentuk pemerinthan. Kata “bentuk dari pemerintah” yang sering kita dengar adalah: anarki, monarki, oligarki dan demokrasi. Dalam klasifikasi ini kata Negara tidak disebut. Negara bukanlah bentuk pemerintahan, namun diidentifikasikan sebagai lembaga yang lebih tinggi dari pemerintahan. Sekarang, kita secara samar-samar berbicara mengenai Negara sebagai terdiri dari, warga negara, hukum, budayanya, ekonominya dan pemerintahnya. Bagi beberapa orang kata tersebut sama halnya mencakup Negara Mesir Firaun, Negara Caesar, atau di jaman sekarang Negara Inggris; dan mencakup rezim berbeda seperti Uni Soviet, Nazi Jerman. Semua ini yang “mencakup” makna Negara tidak memberitahu kita apapun mengenai peristiwa krusial yang ingin kita gambarkan.

Mari kita kembali kepada budaya Barat guna mencari sedikit pertolongan. Dari semua gerakan revolusi di Eropa Barat, salah satu yang menolak munculnya dengan dengan lebih keras adalah gerakan anarkis. Para anarkis sejak Proudhon berkata “melawan Negara”. Sering, hal ini secara salah dipandang sebagai gerakan “tanpa pemerintah”. Tetapi ini bukanlah tujuan mereka. Karena tulisan ini bukan untuk mempelajari gerakan anarkis, tetapi untuk mencari makna baru, atau mungkin, kita hendaknya berucap dalam makna asli. Saya jelajahi “kata” ini dari ucapan para seniman dan penyair yang bersimpati dengan mereka. Seniman ini adalah Richard Wagner, yang mengikuti Bakunin (dia melihatnya sebagai Siegfried - pahlawan yang dilahirkan tanpa rasa takut). Dia menulis dalam barikade di Dresden bahwa masyarakat baru didasarkan pada “pemerintahan tanpa Negara”. Apa yang dia maksud adalah bahwa pemerintah dapat diterima, yang menjadi masalah adalah Negara. Dia merujuk Negara sebagai tambahan terhadap pemerintahan yang perlu dibuang. Dengan kalimat ini, walaupun masih kurang substansi untuk sebuah definisi yang lengkap, telah membawa kita kepada jalan yang berbeda untuk menemukan “makna” Negara.

Kalimat “pemerintahan tanpa Negara” menunjuk kepada dua kemungkinan: satu adalah sebuah “pemerintahan dengan/di dalam Negara” - hal ini dipandang sebagai sebuah masalah -, dan lalu “pemerintahan tanpa Negara”, dipandang sebagai solusi. Dua kemungkinan ini telah mengarah kepada sebuah peristiwa yang dari situ kita bergerak kepada lainnya. Ini sudah menunjukkan jalur revolusi atau evolusi tergantung dari arah. Yang penting adalah bahwa ia mengenali adanya peristiwa penting, titik balik. Peristiwa ini, bahkan tanpa memahami apa itu, mengarah kepada keaslian makna. Dari sinilah kita dapat menanyakan pertanyaan berikut: peristiwa apa itu? Peristiwa apa yang menjadikan pemerintah dan Negara bersatu? Apa itu Negara yang ditambahkan kepada pemerintah? Kapan itu terjadi?

Di sini (ketika Negara dipandang sebagai masalah), definisi yang kami usulkan berkembang dengan jawabannya. Persamaan kami “Negara = pemerintahan + perbankan”, dan solusi kami, “menghapus perbankan”, mengakuisisi kekuatan dinamis. Ia menjelaskan peristiwa ini yang Wagner tunjukkan. Definisi kami memberikan makna penuh kepada kalimat “pemerintahan tanpa Negara”. Sekarang dibaca, masalahnya bukanlah pemerintah, masalahnya adalah perbankan (yang merupakan penyebab masalah) dicampur dengan pemerintahan. Percampuran atau perkawinan ini menciptakan Negara. Dalam bacaan saya mengenai Proudhon dan Bakunin yang melawan Negara, “penyesuaian” yang bagus ini, diskriminasi kritis ini hilang dalam pemahaman mereka mengenai Negara. Dalam pandangan saya, unsur yang hilang ini menghantui seperti awan gelap usaha revolusi dari abad ke-19 untuk menghilangkan Negara dan masih merampok kita hari ini dari setiap pemahaman yang menentukan dari lembaga kunci ini yang dapat menyebabkan perubahan.

Apa yang terjadi di Inggris di akhir abad ke-17 sudah terlalu lama tidak memiliki nama. Diperlukan satu nama. Usul saya adalah menyebutnya kelahiran Negara, mengedepankan kemungkinan untuk memahami fenomena ini dan dengan perluasan untuk memahami masa kita hidup sekarang.

Apakah Kata “Negara” adalah Kata yang Benar untuk Lembaga Baru Ini?

Saya percaya. Kata Negara perlu didefinisikan. Isu pertama adalah diakuinya Negara sebagai fenomena yang relatif baru dalam sejarah. Andrew Vincent, dalam bukunya “Teori Negara” menulis:

“Banyak ahli antropologi dan sosiologi beralasan bahwa ada banyak masyarakat tanpa negara dari jaman sebelum ada Negara. Banyak cendekiawan sekarang setuju bahwa Negara adalah fenomena yang baru-baru ini dalam hal sejarah eksistensi sosial. Jika masyarakat ini tunduk pada otoritas dan aturan, adalah mungkin untuk berbicara tentang politik yang ada tetapi bukan Negara”.

Dari sudut pandang historis murni, penggunaan moderen pertama dari kata Negara dikaitkan dengan Machiavelli (lo stato) dalam bukunya “The Prince”. Machiavelli terpesona oleh Cesare Borgia, bukan hanya orangnya, tetapi lebih kepada “struktur dari negara baru” yang telah diciptakan olehnya. Machiavelli adalah pemikir pertama yang benar-benar menyadari arti dari struktur baru ini. Namun, menurut JH Hexter, yang memeriksa 115 penggunaan dari “lo stato” dalam buku The Prince, Machiavelli tidak menghubungkan Negara dalam arti yuridis yang moderen, tetapi lebih kepada ide jaman pertengahan “kedudukan” atau “kondisi” seperti dalam istilah “status regni”. Dia beralasan bahwa penggunaan moderen dari kata tersebut, telah diinspirasi oleh Machiavelli, tetapi itu hanya ditempa oleh para pemikir Perancis abad ke-16 seperti Du Haillan, Bude, dan Bodin dan politisi seperti Richelieu. Di Inggris, meskipun begitu kata tersebut merambah lebih jauh dan kata-kata pilihan dalam pemikiran politik arus utama masih pada abad keenam belas persemakmuran, kerajaan atau alam.

Bagi Jean Bodin dihubungkan kepada ide kedaulatan. Perancis mengusir feodalisme dengan cepat dalam Perang Agama Perancis. Kedaulatan baginya adalah sebuah “kekuatan tertinggi atas warga negara dan persoalan yang tidak dibatasi oleh hukum”. Sifat ini masih diarahkan kepada Raja. Hanya ketika sosok raja menghilang di abad ketujuhbelas dan kedelapanbelas sehingga kata Negara memperoleh supremasinya. Kedaulatan kemudian diungkapkan dalam “kepribadian Negara”. Dalam ide ini sifat manusia, kapasitas melakukan kewajiban dan memiliki hak, kemampuan untuk bertindak, disifatkan kepada Negara. Kepribadian berubah menjadi hukum, bukan fisik atau psikologi. Pada titik ini, Negara memperoleh pengertian moderennya sebagai “manusia abstrak dengan otoritas”, tidak terhubung dalam apapun dengan perseorangan.

Kisah sejarah penggunaan kata ini, bersamaan dengan waktu yang kita sebut peristiwa itu, yang terjadi di Inggris setelah raja mereka dipenggal. Dalam pandangan saya, perpindahan kedaulatan dari raja kepada Negara ini adalah kritis dalam memberikan kekuatan kepada penggunaan moderen dari kata tersebut oleh pengakuan bahwa sebuah entitas baru telah diciptakan; meskipun tidak cukup dalam hal peristiwa di mana saya merumuskan definisi saya, namun serentak.

Dalam hubungannya dengan pemerintah Vincent memberikan bantahan berikut:

“Kenyataannya pemerintahan adalah istilah yang jauh lebih tua ketimbang Negara atau administrasi. Secara sejarah dan antropologi jelas bahwa konsep dan praktek Negara ada sebelum Negara. Pemerintahan sudah menjalankan peranannya sebelum Negara.”
Bagi saya ini membuktikan bahwa ada peristiwa yang perlu ditempatkan dalam sejarah yang dengan itu transisi mengambil alih. Secara alami kelahiran merupakan utang untuk diperebutkan oleh opini politik dan sejarah yang berbeda, karena dunia politik sudah jenuh dengan ide dan nilai yang berbeda. Namun kita harus mencari koherensi dan konsistensi dalam rangka untuk memperoleh pemahaman tentang masa lalu.

Akhirnya Vicent membantah:

“Negara adalah contoh yang baik dari adanya persaingan penting semacam itu. Namun orang harus waspada terhadap berpegang kepada adanya persaingan penting sebagai asumsi dogmatis. Hal ini berguna dalam istilah pendidikan untuk mengakui bahwa ada beragam pandangan mengenai Negara yang harus ditegaskan. Negara pastinya bukan satu hal. Ia perlu dibongkar. Tetapi kita tidak perlu maju terus dari sini kepada kesimpulan bahwa bahwa pada prinsipnya tidak ada alasan mengambil pandangan tertentu dari Negara atau bahwa Negara harus selalu, dalam setiap keadaan di masa depan, menjadi bahasan untuk diperselisihkan. Ada keanehan logis tertentu dalam pandangan seperti itu yang menghubungkan adopsi dogmatis dari adanya persaingan penting. Tampaknya ada klaim implisit bahwa semua konsep sekarang dan di masa depan harus pada prinsipnya menjadi bahasan dari perselisihan semacam itu. Ini merupakan bentuk terbalik dari esensialisme yang membuat tesis penting adanya persaingan menyangkal diri. Tesis yang lebih seimbang adalah bahwa pada saat ini ada penjelasan benar-benar memuaskan dari Negara atau alasan empiris utama yang dapat disepakati untuk menguji teori. Kita perlu memperhatikan cara di mana konsep tersebut telah digunakan. Hal ini mencerminkan nilai-nilai dan pandangan dari sifat manusia dan kandungan realitas politik. Karena teori Negara merefleksikan nilai fundamental semacam itu dan gambaran-gambaran yang dibuat-buatnya sendiri, adalah penting bahwa gambaran-gambaran itu harus dibuka untuk didiskusikan, dikritik dan disangkal. Memperselisihkan sifat alami negara adalah memperselisihkan tentang karakter dari keberadaan sosial. Diragukan apakah terjadi perselisihan tiada akhir ataukah timbul manfaat.”

Apakah kata Negara merupakan kata yang tepat untuk institusi baru ini? Saya percaya memang demikian. Kita, Muslim, perlu memiliki definisi kita sendiri, pemahaman yang kita miliki atas institusi ‘sangat asing’ ini sesuai pandangan kita tentang dunia. Hanya dalam mengingat inilah definisi saya memiliki nilai atau tidak.

Nilai Politik dari Definisi Saya

Mengatakan bahwa “Negara dilahirkan dari perkawinan pemerintah dan perbankan” menghendaki adanya evaluasi mengenai apa arti aktivisme politik. Selama berabad-abad, setiap usaha sipil yang mencoba untuk membelokkan kekuatan yang meningkat dari lembaga ini selalu berakhir pada pemerintah. Setiap protes yang menggambarkan kemarahan sosial selalu diarahkan kepada agen politik Negara, yang dinamai Parlemen atau “tiran”. Masalahnya adalah bahwa pemerintah sudah berurat-akar dalam dalam peranannya di luar keperluan dasar. Pemerintahan adalah perlu. Usaha untuk menghilangkan Negara, yang dianggap sebagai menghilangkan pemerintahan adalah tidak berdaya, dan bahkan jika berhasil, tiada artinya: Negara masih ada bahkan jika Anda “merubah” (karena Anda tidak dapat benar-benar menghilangkan) pemerintah.

Definisi kami membuka jendela baru, pintu baru. Nilai politik dari definisi kami adalah bahwa protes sosial harus memiliki fokus yang berbeda: bukan melawan pemerintah, tetapi melawan perbankan. Ini membuka bacaan baru strategi revolusioner: yang menjadi isu bukanlah pemerintah dan agen politik, yang menjadi isu adalah perbankan. Definisi kami menemukan kembali makna protes sosial dengan mengindikasikan bahwa masalahnya adalah perbankan.

Memerangi perbankan adalah sangat berbeda dari memerangi pemerintah. Pemerintah adalah perlu, perbankan adalah pendatang baru. Dari sudut pandang kita, Muslim, urusan ini jauh lebih jelas. Perbankan adalah haram, pemerintahan adalah halal. Definisi ini memaksa aktivitas politik Muslim memperoleh makna yang betul-betul berbeda dan sebagai akibatnya memperoleh pendirian dan reputasi baru. Kita dapat, untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun dipahami. Jika protes Muslim dirubah dari agen politik kepada sistim perbankan, kita akan memperoleh dukungan masyarakat. Kita dapat menjadi kekuatan yang memimpin. Di dalamnya kita dapat menciptakan sarana dakwah. Kita dapat mengarahkan protes sosial yang terbengkalai kepada jalan baru di mana keberhasilan adalah dijamin. Allah telah menyatakan perang atas riba. Allah adalah penjamin bahwa strategi ini berhasil.

Ini adalah kekuatan dari sebuah “kata”. Seperti kami katakan di awal: “Kata adalah jendela yang membuka “dunia” di hadapan Anda”. Negara, sebagaimana kita lihat, sudah terlalu lama tidak memiliki nama. Definisi kita mengenai “Negara” membawa penjelasan yang betul-betul kita perlukan sehingga semua Muslim dapat memikirkan ulang dan merancang ulang strategi sosial kita sendiri. Makna yang kami ajukan di sini, dapat membawa Muslim ke ke garis depan aktivitas politik dalam cara yang dapat berhasil. Makna baru ini dapat menjadi kunci kepada masa depan kita sebagai penguasa abad  ke-19. Dengan ini kita mampu mengarahkan semua serikat dagang, serikat konsumen, kelompok kebebasan sosial dan gerakan sosial secara umum kepada kemungkinan baru dari aktivisme politik,yang mana kita menjadi kekuatan yang memimpin.

Revolusi melawan pemerintah menyiratkan kekerasan dan terorisme (Bastille, Russian Winter Palace, British Gunpowder plot melawan Parlemen). Memerangi perbankan memiliki modalitas sosial, ia meminta ditinggalkannya unsur kunci dan dengan kunci itu bank tetap ada: uang kertas. Memerangi perbankan adalah kembali kepada bentuk sejati uang yang dengan uang itu masyarakat dan perdagangan dapat disusun tanpa perbankan.

Kesimpulan

Kata Negara tetap samar-samar dan disalahpahami dalam bahasa kita. Kita, Muslim perlu menyediakan definisi kita sendiri atas lembaga ini. Peristiwa yang dalam pandangan saya adalah faktor penentu bagi penciptaan lembaga ini adalah berdirinya Bank of England tahun 1694. Dengan lembaga ini Negara lahir dan dan secara serempak tiga unsur lain dari Negara moderen: Hutang Nasional, uang fiat dan Bank Sentral. Esensi dari lembaga baru ini adalah bercampurnya untuk pertama kali dalam sejarah dua lembaga lain pemerintahan dan perbankan. Ini memberi kita persamaan yang dengan persamaan itu saya mendasarkan definisi saya: Negara = pemerintahan + perbankan. Di atas dasar ini kita dapat memformulasikan ide dari masalah yang bernama Negara, yaitu, perbankan. Pemerintahan adalah halal, tetapi perbankan adalah haram. Dengan pemahaman ini, perjuangan melawan Negara seharusnya dibaca sebagai perjuangan melawan perbankan. Penjelasan ini dalam pandangan saya merupakan nilai sejati dari definisi saya. Dengan cara ini, sebuah kata bukan hanya jendela, tetapi sebuah senjata.

Definisi ini hendaknya juga membantu menghilangkan kebingungan yang diciptakan oleh istilah seperti “Negara Islam”. Penolakan ini termasuk juga istilah lain perbankan Islam atau konstitusi Islam atau demokrasi Islam. Lembaga-lembaga ini adalah “alien” bagi kita dan semuanya tidak dapat “diislamkan”. Ketika kita memiliki istilah dan model kita sendiri, kita tidak perlu mengimpor istilah dan model yang sama sekali asing. Karenanya, keabsahan dari istilah Negara, seharusnya, menggambarkan dan menjelaskan sifatnya yang sama sekali asing, sehingga kita mampu memikirkan dan berurusan dengan istilah ini.
Allah adalah Pembimbing kita. Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah. Tidak ada kemenangan kecuali dari Allah. Shalawat dari Salam dari Allah semoga tercurah-limpahkan kepada Nabi salalahu’alayhiwasalam, Keluarganya dan Sahabatnya. Beliau adalah model kita di dunia ini.

Kamis, 23 Juni 2016

Orang-orang yang Berkata ‘Kami Akan Membetulkan Masalah Riba Ketika Khilafah Tegak’

Oleh Shaykh Umar Ibrahim Vadillo 
Ada beberapa orang yang ketika diminta untuk ‘menggunakan Dinar Emas’ mereka berkata ‘kami akan menggunakan Dinar ketika sistim politik menjadi sepenuhnya Islam’ atau ketika Khalifa datang’ atau ungkapan yang seperti itu. Mereka salah dan tetap melakukan kesalahan membuat mereka menjadi kaki tangan dalam menurunnya nilai moneter yang merusak dari uang kertas yang dibuat oleh bank. Kenyataannya, inilah ‘riba baru perbankan’ yang menyebabkan hancurnya Kekhalifahan. Anda dapat membaca lebih banyak mengenai paradigma "riba baru" di sini: http://umarvadillo.wordpress.com/2013/10/19/muamalaat-the-alternative-to-the-riba-system-exists/
 
Apa keadaan sulit mereka? Mereka berfikir riba adalah gejala dan bukan penyebab masalah. Tetapi mereka sekali lagi salah. Riba adalah masalah, riba adalah kejahatan. Perintah untuk menghapuskan Riba tidak memiliki pra-syarat apapun. Seperti setiap perintah lain. Dengan berkata ‘saya tidak akan memakan makanan halal sampai berdirinya Khilafah’, benar-benar tak masuk akal. 
Membenarkan Sikaf Pasif
 
Alasan seperti itu, dalam pengalaman saya, adalah pembenaran sikap pasif dan menutupi sikap pasif (atau kedunguan) dari orang-orang yang secara salah mengambil mereka sebagai pedoman. Cukup cantumkan, tidak seorangpun dalam lingkungan pergaulan modernis, artinya, mayoritas ulama sekarang, yang paham bahwa ‘Riba dan uang kertas adalah isu yang sama.’ Bagaimana saya tahu bahwa tidak seorangpun? Karena sayalah yang pertama di generasi saya yang mengedepankan persoalan Dinar Emas. Mempercayakan kepada orang-orang yang mendukung secara diam-diam atau secara terbuka uang fiat adalah tempat beristirahat yang bodoh untuk menemukan kenyamanan di dalam kebodohan orang lain. Bahkan jika mungkin bagi mereka untuk tidur di malam hari, tetap hidup dalam kedunguan bukanlah tempat bersembunyi.
Kasus Hizbut-Tahrir
 
Mereka membela Khilafah. Kami juga. Kami memerangi Riba dengan memperkenalkan Dinar emas dan Dirham perak sekarang. Tetapi ketika kami mengundang mereka untuk bergabung mereka berkata ‘nanti, ketika Khilafah sudah tegak’. Saya merasa senang bertemu mereka dalam lebih dari satu kesempatan. Itulah yang mereka katakan setiap kali bertemu. 
Pertama, kepemimpinan sekarang dan masa lalu dari Hizbut-Tahrir tidak tahu dan mereka masih tidak tahu mengenai apa itu uang dalam Islam. Saya membawa persoalan Dinar emas untuk mereka perhatikan, dan hanya beberapa tahun lalu pertama kalinya mereka mengeluarkan pernyataan resmi mengenai Dinar Emas. Pernyataan resmi mereka tersedia di internet. Pernyataan mereka adalah potongan-potongan yang disusun dengan buruk dari posisi orang lain mengenai mata uang yang tujuannya mempertahankan ‘teori standar emas’. Standar emas bukanlah cara kita. Tetapi mereka tidak mengetahui perbedaannya. Pernyataan itu hanya menunjukkan bahwa mereka tidak pernah memahami isunya. 
Berkata bahwa kami hanya membawa persoalan Dinar emas ketika Khilafah berdiri menandakan adanya masalah yang jauh lebih parah yakni apa yang mereka maksud dengan Khilafah dan apa yang kita maksud dengan Khilafah adalah dua hal yang berbeda. Apa perbedaannya? Perbedaannya adalah mereka menyebutnya ‘Negara Islam’. Mereka menerjemahkan Daulah sebagai Negara, artinya menempatkan kejadian pada waktu yang salah. Itulah omong kosong khas modernis/reformis. 
Kedua, bagi mereka Negara membuat Hukum menjadi aktif (Hukum tidak dapat diterapkan sampai pembentukan Negara), bagi kita Allah yang membuat Hukum menjadi aktif. Itulah sebabnya mereka menunggu berdirinya Negara Islam. Kita tidak: Allah sudah menyatakan bahwa Riba adalah Haram, dan kewajiban saya adalah di sini dan sekarang. Terus menggunakan sistim riba dan uang fiat adalah memenuhi permintaan musuh Allah. Kepemimpinan Hizbut-Tahrir salah mengenai masalah ini (sementara mereka benar mengenai hal yang lainnya) dan mereka harus berubah. Saya-sebagaimana selalu- siap melayani mereka jika mereka menginginkan penjelasan lebih lanjut mengenai persoalan ini. Untuk memahami isu negara lebih dalam, bacalah ini: Definisi "Negara".
 
Kita semua berkata 'Riba adalah Haram' 
Tidak seorangpun Muslim yang akan menyangkalnya. Tetapi masalahnya berbeda. Masalahnya adalah 'apa yang kau lakukan mengenai itu?'. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

(Hai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakan) sewaktu kalian meminta berjihad (apa yang tidak kalian perbuat) karena ternyata kalian mengalami kekalahan atau mundur dalam perang Uhud.

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

(Amat besar) yakni besar sekali (kebencian) lafal maqtan berfungsi menjadi tamyiz (di sisi Allah bahwa kalian mengatakan) lafal an taquuluu menjadi fa'il dari lafal kabura (apa-apa yang tiada kalian kerjakan). (Qur’an: 61:2-3) 
Kita akan diadili untuk apa yang kita lakukan. Dan hasil dari apa yang kita lakukan adalah milik Allah. Kita harus berjuang untuk menghapuskan Riba dengan niat yang ikhlash. Kita tidak bisa puas dengan berkata ‘saya tahu itu haram’. Jika mereka berkata 'persoalan Riba tidak dapat diselesaikan', katakan pada mereka, bahwa Allah telah menyatakan perang atas Riba dan itu artinya Riba telah dihancurkan. Kita hanya memerangi hantu yang tidak memiliki kekuatan. Riba adalah reruntuhan dan telah terbukti menjadi bencana bagi alam dan umat manusia. Semua yang harus kita lakukan adalah Yakin kepada Allah dan bertindak dengan keikhlasan.
Apa yang dapat Anda lakukan?
 
Bergabunglah dengan jaringan dan tim kami. Dapatkan Dinar emas dan Dirham perak di www.wakalanusantara.com . Undanglah toko di sekitar Anda untuk menerima koin syariah dan daftarkan lokasinya di www.dinarshops.com. Belilah koin dan gunakan. Dan jangan sampai gagal menyebut nama Allah setiap kali Anda menggunakannya. Pelajari tentang Muamalat. Berkumpullah dengan orang-orang yang bertindak. Allah adalah Pembimbing kita. Dan Kemenangan milik Allah. 



Jumat, 17 Juni 2016

IBNU KATSIR MENGENAI “BAGAIMANA MENGENALI SERIGALA ITU”

Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir [1] oleh Shaykh Umar Ibrahim Vadillo
Ayat Qur’an dari Tafsir Jalalayn. 
 
Qur'an menggunakan kata kufr untuk menunjukkan seseorang yang menutupi atau menyembunyikan kenyataan, orang yang menolak menerima dominasi dan otoritas Tuhan (Allāh). Ada beberapa jenis Al-Kufr ul Akbar:
 
Kufrul-'Inaad: Ketidakpercayaan yang berasal dari sikap keras kepala. Ini berlaku kepada seseorang yang mengetahui kebenaran dan mengaku mengetahui kebenaran dan mengaku mengetahuinya dengan lidahnya, tetapi menolak menerimanya dan menahan diri dari membuat pernyataan. Qur'an menyatakan:

أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ

" ("Lemparkanlah olehmu ke dalam neraka Jahanam) maksudnya, lemparkanlah, atau cepat lemparkan. Menurut bacaan atau qiraat Imam Al-Hasan lafal Alqiyaa dibaca Alqiyan. Jadi asal kata lafal Alqiyaa adalah Alqiyan, kemudian huruf Nun Taukidnya diganti menjadi Alif sehingga jadilah Alqiyaa (semua orang yang ingkar dan keras kepala) maksudnya, membangkang terhadap perkara yang hak." [2] 
 
Kufrul-Inkaar: Ketidakpercayaan yang berasal dari keingkaran. Ini berlaku kepada seseorang yang mengingkari baik itu dengan hati ataupun lidah. Qur'an menyatakan:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

"(Mereka mengetahui nikmat Allah) artinya mereka mengakui bahwa semua nikmat itu dari sisi-Nya (kemudian mereka mengingkarinya) karena ternyata mereka menyekutukan-Nya (dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir)."[3]
 
Kufrul-Kibr: Ketidakpercayaan yang berasal dari kesombongan. Tidak percayanya Iblis adalah contoh kufr jenis ini.
 
Kufrul-Juhood: Ketidakpercayaan yang berasal dari penolakan. Ini berlaku kepada seseorang yang mengakui kebenaran di hatinya, tetapi menolaknya dengan lidahnya. Kufr jenis ini diterapkan kepada orang-orang yang menyebut diri mereka Muslim tetapi menolak norma-norma Islam yang penting dan diterima seperti Salaat and Zakat. Qur'an menyatakan:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

"(Dan mereka mengingkarinya) maksudnya mereka tidak mengakuinya sebagai mukjizat (padahal) sesungguhnya(hati mereka meyakininya) bahwa hal itu semuanya datang dari sisi Allah dan bukan ilmu sihir (tetapi kelaliman dan kesombonganlah) yang mencegah mereka dari beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Musa itu, karenanya mereka ingkar. (Maka perhatikanlah) hai Muhammad (betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan itu) sebagaimana yang kamu ketahui, yaitu mereka dibinasakan. "[4]
 
Kufrul-Nifaaq: Ketidakpercayaan yang berasal dari kemunafikan. Ini berlaku kepada seseorang yang pura-pura beriman tetapi menyembunyikan ketidakpercayaannya. Orang semacam itu disebut MUNAFIQ. Qur'an menyatakan:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

"(Sesungguhnya orang-orang munafik itu pada tempat) atau tingkat (yang paling bawah dari neraka) yakni bagian kerak atau dasarnya. (Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka) yakni yang akan membebaskannya dari siksa. " [5] 
 
Kufrul-Istihlaal: Ketidakpercayaan yang berasal dari mencoba membuat HARAM menjadi HALAL. Ini berlaku kepada seseorang yang menerima sebagai Halal apa yang Allah telah Haramkan seperti mabuk atau zina. Hanya Allah yang memiliki prerogatif membuat hal-hal menjadi Halal dan Haram dan orang-orang yang berusaha mengganggu hak-Nya adalah saingan-Nya dan karenanya jatuh di luar batasan-batasan iman. 
 
Kufrul-Kurh: Ketidakpercayaan yang berasal dari membenci setiap perintah Allah. Qur'an menyatakan:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ.ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

"(Dan orang-orang yang kafir) dari kalangan penduduk Mekah; lafal ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada, sedangkan Khabarnya, niscaya mereka celaka. Pengertian ini disimpulkan dari firman selanjutnya yaitu (maka kecelakaanlah bagi mereka) yakni kebinasaan dan kekecewaanlah yang akan mereka terima dari Allah (dan Allah menyesatkan amal perbuatan mereka) lafal ayat ini diathafkan pada Ta'isuu yang keberadaannya diperkirakan. (Yang demikian itu) kecelakaan dan penyesatan itu (adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah) yakni Alquran yang diturunkan-Nya, di dalamnya terkandung masalah-masalah taklif atau kewajiban-kewajiban (lalu Allah menghapuskan pahala amal-amal mereka.) "[6] 
 
Kufrul-Istihzaa: Ketidakpercayaan karena olok-olok dan ejekan. Qur'an menyatakan: "

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُواقَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

(Dan jika) Lam bermakna qasam/sumpah (kamu tanyakan kepada mereka) tentang ejekan-ejekan mereka terhadap dirimu dan terhadap Alquran, padahal mereka berangkat bersamamu ke Tabuk (tentulah mereka akan menjawab)mengemukakan alasannya ("Sesungguhnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja") dalam ucapan kami guna melenyapkan rasa bosan dalam menempuh perjalanan yang jauh ini, dan kami tidak bermaksud apa-apa selain daripada itu (Katakanlah)kepada mereka! ("Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?"). (Tidak usah kalian meminta maaf) akan hal tersebut (karena kalian kafir sesudah beriman) artinya kekafiran kalian ini tampak sesudah kalian menampakkan keimanan. (Jika Kami memaafkan) bila dibaca memakai ya berarti menjadi mabni maf'ul sehingga bacaannya menjadi ya'fa. Jika dibaca memakai huruf nun, berarti mabni fa'il, dan bacaannya seperti yang tertera pada ayat (segolongan daripada kalian) lantaran keikhlasan dan tobatnya, seperti apa yang dilakukan oleh Jahsy bin Humair (niscaya Kami akan mengazab) dapat dibaca tu`adzdzib dan dapat pula dibaca nu`adzdzib (golongan yang lain disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa) yakni, karena mereka selalu menetapi kemunafikannya dan selalu melancarkan ejekan-ejekan. "[7] 
 
Kufrul-I'raadh: Ketidakpercayaan karena menghindari. Ini berlaku kepada orang-orang yang berpaling menghindari kebenaran. Qur'an menyatakan:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِن تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَن يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا

"(Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabbnya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya) apa yang telah diperbuatnya berupa kekafiran dan kedurhakaan. (Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka) penutup-penutup (hingga mereka tidak memahaminya) maksudnya, supaya mereka tidak dapat memahami Alquran, dengan demikian maka mereka tidak dapat memahaminya (dan di telinga mereka Kami letakkan sumbatan pula) yakni penyumbat sehingga mereka tidak dapat mendengarkannya (dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk) disebabkan adanya penutup dan sumbatan tadi (selama-lamanya).."[8] 
 
Kufrul-Istibdaal: Ketidakpercayaan karena mencoba mengganti Hukum Allah. Ini dapat berbentuk: 
 
(a) Menolak Hukum Allah (Syariah) tanpa menyangkalnya,
(b) menyangkal Hukum Allah dan karena itu menolaknya, atau
(c) Mengganti Hukum Allah dengan hukum "buatan" (misal. hukum non-Muslim).
Qur'an menyatakan:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن يُدْخِلُ مَن يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُم مِّن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

"(Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat) artinya memeluk satu agama, yaitu agama Islam (tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang lalim) yaitu orang-orang kafir (tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong) yang dapat menolak azab Allah dari diri mereka. "[9] 
 
Qur'an mengatakan:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

"(Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian) yang sering digambarkan oleh lisan kalian (secara dusta, "Ini halal dan ini haram.") terhadap apa yang tidak dihalalkan oleh Allah dan apa yang tidak diharamkan oleh-Nya (untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah) dengan menisbatkan hal itu kepada-Nya. (Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung). " [10] 
 
1. "'Tafsir Ibnu Katsir".
2. "Surah Qaaf (50), Ayah 24".
3. Surah Nahl (16), Ayah 83
4. Surah Naml (27), Ayah 14
5. Surah An Nisaa (4), Ayah 145]
6. Surah Muhammad (47), Ayah 8-9
7. Surah Taubah (9), Ayah 65-66
8. Surah Kahf (18), Ayah 57]
9. Surah Shuraa(42), Ayah 8
10. Surah Nahl (16), Ayah 116

Kamis, 09 Juni 2016

Beberapa Ide Terkait dengan Perdagangan Islam

Pengantar

Kekayaan bangsa Muslim adalah berupa orang-orang Muslim yang rajin. Ummah yang ada di pusat dunia, “kerajaan tengah”, dan sumber mineral paling berharga dunia yang dimiliki sendiri, di mana strategi politik sekarang dan masa depan kekuatan politik dunia tetap berporos.

Namun, selama lebih dari seratus tahun tangan berbahaya telah mencengkeram bangsa ini dalam upaya untuk melumpuhkan keberadaannya. Maka pertama alat-alat untuk melumpuhkan Dar al-Islam adalah militer lalu ekonomi. Alat ini masih digunakan sampai sekarang.

Sebuah usaha untuk "Islamisasi" kapitalisme diperkenalkan melalui sekelompok reformis awal di Mesir, berdasarkan bacaan puritan dan modernis dari Hukum Islam. Tugas kita adalah untuk kembali ke Model Islam, berbasis pada masyarakat pertama di Madinah al-Munawwarah sebagai alternatif kapitalisme.

Model asli itu adalah Muamalat. Penerapan total Muamalat berarti pendirian blok perdagangan Islam, berdasarkan model perdagangan dan uang sendiri: Dinar dan Dirham Islam.

Karenanya sebuah Blok Perdagangan Islam, bukan sekedar Muslim yang berdagang dengan sesamanya menggunakan cara perdagangan kapitalis yang ada saat ini. Sebuah blok perdagangan Islam akan terdiri dari semua kalangan, Muslim atau non-Muslims, berdagang dengan cara yang didefinisikan oleh Hukum Islam mengenai Perdagangan yang disebut Perdagangan Islam.

Pengembalian perdagangan Islam adalah tugas besar yang pada akhirnya akan menggantikan kapitalisme sebagai praktek dan Ekonomi sebagai ideologinya. Pendirian perdagangan Islam ini memerlukan perencanaan yang hati-hati yang mana infrastruktur perdagangan Islam ini akan diperkenalkan secara bertahap. Infrastruktur minimum yang akan membolehkan semua aspek perdagangan Islam untuk untuk dikembangkan adalah, Mekanisme Inti Blok Perdagangan Islam.

Kembalinya Dinar Islam memerlukan perdagangan Islam. Kembalinya mata uang Syariah, Dinar dan Dirham, memiliki pemahaman baru mengenai kesejahteraan dan kemakmuran yang berbeda dari ekonomi konvensional. Pemahaman baru ini adalah paradigma baru yang kita sebut Muamalat sebuah bagian signifikan dari hal yang disebut perdagangan Islam. Perdagangan Islam mewakili bingkai yang lebih lebar di mana Dinar Islam dapat beroperasi sebagaimana yang dimaksudkan oleh Hukum Islam. Hanya melalui perdagangan Islam kita dapat mewujudkan potensi penuh kembalinya mata uang Syariah. Penerapan total perdagangan Islam memaksa penggantian kapitalisme secara total.

Kembali kepada perdagangan Islam adalah pertahanan esensial dan meningkatkan perdagangan. Kenapa kita harus mempertahankan perdagangan? Siapa/Apa yang menyerang perdagangan? Perdagangan telah ditiadakan di bawah Tatanan dan hukum monopolistik saat ini. Untuk menghindari kesalahpahaman kita harus mengklarifikasi bahwa apa yang World Trade Organisation (WTO) sebut sebagai Perdagangan, bukanlah Perdagangan dalam pengertian Islam, tetapi dari perspektif Islam apa yang boleh kita sebut distribusi monopolistik.

Supaya perdagangan bisa eksis kita perlu mengembalikan beberapa institusi fundamental yang sekarang hilang. Yang paling pentingnya adalah pasar terbuka —Pasar Islam atau Suq1— dan yang terpenting kedua adalah karavan. Bukti kembalinya perdagangan adalah kembalinya karavan. Kita akan menguraikan lebih jauh tentang hal ini.

“Islamisasi” Kapitalisme selama limapuluh tahun terakhir oleh sekelompok Muslim di bahwa spanduk “reformasi” telah terkait dengan “islamisasi pengetahuan”, dan jantungnya adalah “islamisasi” Ekonomi.

Pengetahuan Allah membuka selubung ilusi pengetahuan dari selain Allah. Maka Pengetahuan adalah Islam atau itu bukan pengetahuan sama sekali. Karenanya Pengetahuan tidak dapat diislamkan. Di bawah spanduk, “islamisasi pengetahuan”, beberapa sarjana, mengambil pengetahuan Barat, melakukan tugas menggelikan "Islamisasi" semua ilmu manusia: sosiologi, psikologi, politik, antropologi dan yang terpenting adalah ekonomi.

Ekonomi Islam menghasilkan bank Islam, Pasar Saham Islam, asuransi Islam, hipotek Islam, sampai, kartu kredit Islam.

Metodologi mereka adalah simpel. Pertama, menolak madzhab, yang mereka pandang sebagai pengetahuan jaman pertengahan. Kedua, transformasi Syariah dari basis jurisprudensi eksistensial kepada satu set prinsip moral abstrak normatif dan nilai-nilai, yang dapat diakses secara acak. Misal, prinsip persamaan dan keadilan, dipandang sebagai nilai Islam, jika ditetapkan kepada setiap institusi dan prosedur finansial maka dapat mengislamkan institusi dan prosedur itu.

Metode tersebut menyerupai pernyataan terkenal dari Father Ballerini, seorang Katolik terkemuka pada malam pengkristenan bank pada pertengahan abad ke-19, yang mendeklarasikan “kejahatan riba bergantung pada niyat yang meminjami”. Dengan demikian pinjaman 5% dengan niyat baik dideklarasikan sebagai tidak ada cacatnya. Para sarjana modernis dan reformis kita telah menggunakan metodologi “subjektif moral” yang sama. Buktinya ada pada hitam dan putih dalam literatur ekonomi Islam yang ada.

Masalah dengan metodologi moral ini bukan hanya taktik yang salah. Masalahnya adalah bahwa islamisasi kapitalisme menggeser fokus dari model Islam kita. Dengan demikian, pada saat etos reformis masih hidup, ide Dinar dan Perdangan Islam akan tetap tersembunyikan.

Islamisasi telah mencapai titik absurd, kesimpulan nihilis, artinya, nilai-nilai Islam “mereka” telah dicairkan kepada lubang pragmatisme. Hasil ironis dari islamisasi adalah asimilasi total kepada kapitalisme, sejenis “sekularisme yang diputar-balikkan”. Bagaimana bisa islamisasi menghasilkan institusi, alat, dan prosedur yang sama sebagaimana kapitalisme tetapi dengan istilah-istilah yang berbeda? Pentas Srimulat ini harus berakhir, karena ini bukan hanya menguji pengertian dan makna tetapi mencegah model Islam sesungguhnya untuk kembali.

Kita tidak ingin mengislamkan kapitalisme, Kita ingin menciptakan alternatifnya. Tamatnya riwayat Ekonomi, Ekonomi tidaklah netral, ekonomi adalah sebuah ideologi berdasarkan kepongahan melawan keputusan Allah

“Allah telah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba”. Ekonomi mengatakan hal yang berbeda, “Ekonomi telah melarang Perdagangan dan membolehkan Riba”.

Kita tidak bisa menerima tujuan dan metodologi ekonomi. Kita tidak butuh membuat ekonomi dapat diterima, karena kita memiliki cara pikir yang lebih unggul yang berasal dari Sunnah Rasulullah salalahualaihiwasalam. Kita tidak butuh ilmu palsu itu dan menyediakan sendiri cara-cara di luar parameter ekonomi. Gerakan ini bukan bermaksud mengislamkan ekonomi,tetapi “menyembelih” Ekonomi.

Bahaya yang Timbul Kalau-kalau Salah Menangani Mata Uang Syariah

Kita tidak takut mata uang Syariah akan gagal, tetapi kita takut orang salah menangani Dinar Islam dan kemudian menyalahkan mata uang Islam sebab ketidakcakapan mereka sendiri.

Apa yang menyebabkan salah penanganan ini? Salah penanganan adalah apa yang Bank Pembangunan Islam (IDB) lakukan dengan “Dinar Islam”. IDB meng-Islamkan special drawing rights (SDR adalah mata uang yang diciptakan oleh IMF supaya emas menjadi alternatif global dolar Amerika) dan menyebutnya Dinar Islam, yang sekarang menjadi unit penghitungan mereka. Formula: satu Dinar Islam = satu SDR.

Salah penanganan berarti bahwa mata uang Syariah akan beralih kepada marginal reserve dari sistem perbankan. Salah penanganan berarti bahwa Dinar digunakan untuk memberikan kesan Islam kepada kapitalisme. Salah penanganan dari mata uang Syariah adalah gagal memahami bahwa ini adalah kesempatan menciptakan sebuah alternatif kepada kapitalisme (sistem haram), dan bukannya mengurangi urusan untuk percobaan standar emas marginal yang tidak berhasil. Hal ini tidak akan berjalan. Kita ingin menekankan poin tentang “standar emas” karena sering disajikan sebagai solusi terhadap masalah saat ini. Kita akan menjelaskannya nanti kenapa hal ini bukanlah sebuah penyelesaian.

Pengembangan mata uang Syariah berhubungan dan konsisten terhadap institusi perdagangan, tetapi bukan institusi pembiayaan. Jika mata uang Syariah ditempatkan pada institusi finansial maka akan menjadi marginal reserve dan karenanya tidak akan memenuhi peran kunci penciptaan kekayaan dan pengembalian Sunnah. Mata Uang Syariah hanya dapat sukses dengan penerapan penuh Muamalah.

Pengembangan Strategis, Bukan Ukuran Pengembangan, Apakah Isu

Penting untuk memahami bahwa mata uang Syariah harus disertai dengan pendirian infrastruktur perdagangan Islam supaya dapat tumbuh subur. Artinya kita harus secara simultan mendirikan infrastruktur perdagangan Islam. Koordinasi dan Perencanaan adalah hal yang fundamental. Lebih penting pemahaman yang tepat tentang apa tuntutan mata uang Syariah, dan apa yang mata uang Syariah dapat lakukan dan tidak dapat lakukan terhadap ekonomi.

Mata Uang Syariah tidak dapat berhasil dalam pengasingan tetapi memerlukan pengembangan semua institusi perdagangan yang dengan keduanya Perdagangan Islam tumbuh subur di masa lalu.

Mengapa Kembali ke Standar Emas tidak dapat dijalankan atau Diinginkan

Kembalinya standar emas sering disalah artikan sebagai kembalinya mata uang Syariah. Kesalahannya memiliki daya tarik logis alami: Pertama ada koin emas, kemudian uang yang mewakili emas (standar emas), dan sekarang hanya sekedar kertas yang tidak disokong oleh logam mulia apapun. Adalah logis tetapi tidak benar membayangkan bahwa semenjak kita beralih dari standar emas ke situasi saat ini kita hendaknya kembali ke standar emas dalam perjalanan kembali menuju emas. Mengenai validitas emas, emas adalah bagian terbesar yang digunakan sebagai uang dalam sejarah. Kesulitan datang ketika emas dipandang sebagai bercampur dengan kebutuhan manajemen ekonomi utang ini dengan lembaga-lembaga negara.

Standar emas dilihat oleh institusi Negara sebagai tidak layak atau tidak praktis karena tidak memungkinkan ekspansi kredit yang sangat penting untuk kelangsungan hidup ekonomi berbasis utang: tidak mampu menyelesaikan masalah “tidak ada cukup uang” (yang secara matematis adalah masalah endemik bagi ekonomi berbasis utang), dan ketidakmungkinan emas untuk digunakan dalam “solusi bail-out”.

Masalahnya adalah - dan kita bersetuju dengan mereka dalam hal ini- bahwa anda tidak dapat melangsingkan orang gemuk dengan sekedar mengencangkan ikat pinggang nya. “Solusi” seperti itu akan membunuh orang tersebut. Para ahli Moneter telah menyalahkan “kurangnya emas” sebagai penyebab krisis ekonomi di masa lalu. Argumen mereka adalah bahwa emas tidak membolehkan ekspansi moneter pada saat krisis. Karena kita selalu berada dalam keadaan krisis, atau mencegah krisis, mereka memandang emas sebagai larangan dalam urusan primer mereka “dalam menghadapi krisis”.

Pasar Finansial perlu perbaikan sesekali. Dari dulu selalu begitu. Mencari uang di pasar keuangan adalah luar biasa: Saya menjual kepada Anda saham seharga 180, Anda menjual saham saham itu kembali saya seharga 210, saya menjualnya kembali kepada Anda seharga 240, Anda menjual saham itu kembali ke saya seharga 270, dst. Kita berdua menghasilkan uang, tetapi kita tidak menambahkan sedikitpun kekayaan atau jasa ke masyarakat. Namun demikian, GNP akan mencerminkan pertumbuhan akibat peningkatan nilai saham. Ini adalah ekonomi uang spekulatif yang menggerakkan angka ekonomi ke atas.

Ekonomi spekulatif ini 100 kali lebih besar dari ekonomi riil. Masalahnya adalah ketika saham mencapai titik ketika tidak ada lagi pembeli, maka terjadilah krisis. Kenapa sih harus ada krisis? Kenapa sih harga nya tidak jatuh saja seperti barang dagangan lain? Karena keseluruhan sistem perbankan terjerat rantai hutang dan agunan mencapai tingkat tertentu dari ekonomi produktif. Pendeknya, pemerintah tidak mampu membayari kekacauan tersebut, dan harus mengintervensi dengan satu-satunya cara yang mereka tahu, dengan menggelontorkan lebih banyak lagi uang, yaitu mem-bail out krisis dengan uang kertas.

Berapa kali kita melihat hal seperti ini? Sistem perbankan justru semakin menguat setiap kali terjadi krisis. Kenapa? Karena politisi kita, secara umum, telah dilatih untuk berfikir bahwa solusi ini, selalu sama, yaitu menggelontorkan lebih banyak uang ke pasar yang sakit, setel kendor, salah satu dari lain cara, ketika bank mengeluarkan kredit mereka.

Kenyataannya, kita dapat berkata bahwa kita telah membawa ke jaman kita, jenis ekonomi yang dikendalikan oleh krisis, ketimbang konsensus politik. Sistem moneter saat ini, sebagaimana dinyatakan oleh pemenang hadiah Nobel di bidang Ekonomi, Robert Mundell-, berasal dari kebangkrutan Amerika pada saat President Nixon di awal tahun 70-an, ketika dia menghancurkan unsur terakhir standar emas yang masih ada. Sebelumnya, perang dan revolusi membuka jalan ke mata uang kertas nasional pertama. Lalu tiba krisis yang memperluas kesenjangan antara uang logam fisik dan kertas. Krisis lebih lanjut hanya berarti kesenjangan semakin melebar, sampai akhirnya, negara-negara kapitalis terkemuka menempuh pengaturan baru mata uang mengambang ini, untuk menyenangkan para spekulan, yang telah membangkitkan industri senilai 3 triliun dolar setiap hari, mengambil keuntungan penuh dari kekacauan.

Kita bersetuju dengan para ahli moneter yang “mencegah krisis” atau “mengatur krisis” bahwa emas tidak menawarkan solusi. Jika emas adalah sumber seluruh masalah, maka tidak akan apa-apa lagi yang bisa dikatakan, dan argumen untuk emas tersebut tuntas – ini yang diinginkan oleh para ahli moneter. Tetapi ada hal lain yang bisa dikatakan tentang emas. Pertama, krisis tidak akan selesai ketika kita hanya mencoba untuk mengobati gejala. Dan kedua, kita memahami bahwa ada sektor-sektor tertentu dari ekonomi, yang berbeda dari ekonomi uang spekulatif yang dominan, yang mendapat manfaat dari penggunaan mata uang Syariah. Sektor tersebut pada dasarnya adalah yang sekarang dikenal sebagai "perekonomian riil". Sementara emas tidak membantu terhadap perekonomian uang spekulatif yang dominan saat ini, emas dapat membantu untuk mengaktifkan ekonomi riil yang sering dipandang sebagai sektor marjinal, ekonomi riil adalah sumber ekonomi dan kontribusi ekonomi riil terhadap penyerapan tenaga kerja yang jauh lebih berarti daripada sektor keuangan. Argumen kami adalah bahwa emas tidak berhubungan dengan lembaga keuangan dan permasalahannya, tetapi berkaitan dengan dan akan meningkatkan ekonomi riil dan perdagangan.

Perdebatan antara monetaris dan ekonom yang mendukung standar emas cukup sering terjadi. Terakhir kali perdebatan meletus di akhir tahun enam puluhan dan tujuh puluhan, setelah Presiden Prancis De Gaulle mengumumkan keinginannya untuk melihat tatanan mata uang Eropa yang didasarkan pada emas untuk melawan kekuatan dolar yang berlebihan. Argumen dari kedua pihak isinya ya cuman itu-itu saja. Pendukung standar emas berkata: keadilan, universalitas, tanpa inflasi, membatasi kekuatan bankir, dll; para monetaris berkata: pragmatisme berkenaan dengan ekonomi dalam krisis tetap, emas adalah batasan, emas mahal, emas tidak dibutuhkan untuk tugas pokok pemerintah yang harus segera menyelesaikan krisis. Perdebatan ini telah didengar, dan isi nya cuman itu-itu saja selama limapuluh tahun dan para monetaris memenangkan perdebatan2. Pada akhirnya, tidak ada pemerintah yang akan mengorbankan langsung kebutuhan penting mereka, dan prospek hilangnya industri dan pekerjaan, demi sebuah wujud-sebagaimana yang mereka lihat-' Masa depan dunia terbaik'.

Maksud kami adalah bahwa sifat ketidakseimbangan perbankan dalam perekonomian (riba itu sendiri) diperkuat dengan mata uang non-fleksibel nyata, kecuali perbankan secara proporsional dikontrak. Kami mengatakan percobaan untuk melestarikan ekonomi spekulatif tidak layak tanpa meningkatkan ekonomi riil dan itu hanya mungkin dengan kontraksi paralel perbankan, yaitu penciptaan kredit. Saya sangat sadar bahwa saya melangkahi pemikiran konvensional, mungkin gambaran berikut ini akan membolehkan pemahaman paradigma baru:

Ekonomi ini 99% berdasarkan kredit, sedangkan Muamalat kita 1% didasarkan pada kredit. Kunci untuk memahami paradigma kita adalah “kita tidak memerlukan kredit”. Inilah hujatan bagi para ekonom: “Kredit sesungguhnya membahayakan”. Pembangunan janganlah diasosiasikan kepada kredit dan akumulasi modal di tangan swasta tetapi pendirian infrastruktur bersama pada institusi publik dengan memakai bentuk-bentuk sah persetujuan kontrak: ijarah, syirkat dan qirad.

Apa yang kita perlukan adalah kemampuan menciptakan kekayaan tanpa bantuan bank. Ini adalah titik peralihan. Argumennya adalah bahwa soal uang tidak dapat dipandang dalam keterasingan, karena kenyataannya uang bukanlah inti masalah. Masalah inti nya adalah riba yang di dalamnya uang kertas disertakan. Untuk mengambil manfaat dari mata uang yang adil kita harus mampu menciptakan ekonomi tanpa riba, dan ini adalah tantangan yang sesungguhnya.

Di masa awal memperkenalkan mata uang Syariah, kita hendaknya mengizinkan keberadaan dua sistem: bank akan beroperasi secara normal dengan uang kertasnya sementara mata uang Syariah secara bertahap diperkenalkan melalui institusi perdagangan. Namun harus dipahami bahwa tujuan akhir memperkenalkan mata uang Syariah tentunya adalah menyingkirkan riba, melalui pemahaman ulang peranan perdagangan Islam murni yang terbuka.

Kunci pada pengenalan mata uang Syariah yang berhasil adalah penciptaan kekayaan yang baru saja akan dibangkitkan melalui peningkatan dan ekspansi perdagangan.

Dalam Kasus mata uang Syariah 1. Pengenalan MATA UANG SYARIAH harus diasosiasikan dengan pengembangan perdagangan Islam. MATA UANG SYARIAH akan diasosiasikan dengan institusi perdagangan yang dapat tumbuh subur dengan nya dan bukan tertinggal di tangan perbankan atau institusi finansial yang akan mengecilkan dan meminggirkan perdagangan.
2. Perdagangan Islam akan membangkitkan ekonomi baru, kekayaan baru dari ekspansi perdagangan itu sendiri baik itu dalam jumlah maupun mutu. Karena itu Pengenalan MATA UANG SYARIAH tidak akan bersaing dengan kekayaan ekonomi yang telah ada, tetapi kita akan menciptakan kekayaan ekonomi yang baru.
3. MATA UANG SYARIAH akan ditawarkan kepada orang-orang sebagai pilihan bukan sebagaimana paksaan dari Hukum Negara. Sistem pembayaran berdasarkan MATA UANG SYARIAH, seperti e-dinar, hendaknya berkembang sesuai dengan kebijakan umum promosi Perdagangan Islam (dengan demikian menghindari riba), hal yang demikian itu sedang dilakukan oleh World Islamic Trading Initiative, dan secara bertahap mulai mengambil tempat di pasar sebagai jasa praktis bagi kebutuhan orang-orang ketimbang dipaksakan kepada mereka melalui Hukum.

Ekonomi Nyata

Ekonomi Nyata adalah ekonomi tanpa riba. Ekonomi Nyata adalah ekonomi orang-orang yang berproduksi dan berdagang dengan jujur, menciptakan kekayaan bagi masyarakat mereka dan sebanyak itu pula mereka melayani masyarakat. Ekonomi Nyata mewakili kekayaan yang dihasilkan oleh orang yang nyata berdagang dan memproduksi barang dagangan yang nyata dan juga jasa-jasa, menjual di pasar yang nyata menggunakan uang yang juga nyata.

Ekonomi Nyata, sehubungan dengan metode akunting hari ini, memiliki realitas formal dan informal. Ekonomi nyata informal adalah bagian dari ekonomi di mana transaksi didasarkan pada perdagangan jalanan, petani penggarap produksi, dan buruh perempuan untuk menopang rumah tangga. Sedangkan dinamisme ekonomi informal menopang presentase yang signifikan dari populasi nasional, terutama di negara berkembang. Meskipun demikian, sumbangsih mereka ‘tidak tampak’ sejauh ini karena tidak dihitung dalam pertumbuhan GNP atau GDP. Ekonomi nyata formal di mana barang-barang dan jasa diproduksi dan diperdagangkan (dan didaftarkan sebagai bagian GNP), merupakan bentuk yang terlihat dari ekonomi nyata. Biasanya ‘ekonomi nyata’ didefinisikan sebagai bagian yang 'terlihat' , yaitu sesuatu yang dapat ‘dihitung’.

Ekonomi Spekulatif

Unsur dari GNP adalah 'uang' yang berkuasa atau ekonomi spekulatif, yang muncul dari perdagangan dalam memperluas dana yang dikumpulkan secara cepat (misal, pensiun dan reksa dana). Volume arus dalam ekonomi uang spekulatif adalah sekitar seratus kali lebih besar dari volume arus dalam ekonomi nyata yang 'terlihat'.

Perbedaan antara ekonomi nyata dan spekulatif juga didefinisikan dalam istilah produktifitas seperti ekonomi “produktif” dan “non-produktif” berturut-turut. Definisi ini adalah refleksi fakta bahwa ekonomi spekulatif, yang membuat uang dari uang, seperti uang yang diciptakan oleh gelembung spekulatif, bukan kekuatan produktif sejati, dan karenanya tidak menambah kekayaan sejati.

Perbedaan kekuatan dan ukuran yang tumbuh antara ekonomi-ekonomi ini menjadi bahan bakar ketidakadilan sosial dan perusakan lingkungan. Menurut UNDP:

Kesenjangan pendapatan per kapita (GNP) antara negara-negara dengan tingkat kelima terkaya dari penduduk dunia dan mereka yang termiskin kelima melebar 30 banding 1 pada tahun 1960, kepada 60-1 pada tahun 1990, menjadi 74-1 pada tahun 1995; tingkat kelima dari penduduk dunia hidup di negara-negara berpenghasilan tertinggi memiliki 86 persen dari PDB dunia, sedangkan bagian bawah kelima hanya menerima 1 persen, dan setengah dari populasi dunia hidup dengan kurang dari $ 2 per hari.

Melalui penggunaan komputer, manajer ekonomi uang merajalela di dunia dan memangsa ekonomi nasional. Pada serangkaian krisis di Asia, Rusia dan Brazil, kami melihat gelombang pasang arus keluar modal menghancurkan perusahaan dan mata pencaharian di seluruh bangsa.

Dengan kebangkitan ekonomi uang spekulatif, atau “casino kapitalisme”, pemerintah diperlemah dan dipinggirkan. Melalui deregulasi, pemerintah mentransfer kekuatan kepada “pasar”. Beberapa pemerintah menjadi akuntabel kepada investor eksternal dan kreditor ketimbang kepada warga negaranya. Pemodal George Soros secara sombong mengamati bagaimana, hari-hari ini, President dan Perdana Menteri sekarang sedemikian ramah kepada para pemodal dan industrialis, bukan sebaliknya. Pemodal yang tidak dipilih lewat pemilu dan para industrialis sedang mendalangi proses globalisasi.

Efek dari Pertumbuhan Ekonomi Spekulatif

Akibat paling jelas dari pertumbuhan luar biasa spekulasi ini adalah kemiskinan. Ini adalah laporan bank dunia mengenai Efektifitas Pengembangan.

Tinjauan Tahunan Efektifitas Pengembangan 1999 (p.17) menemukan peningkatan di seluruh dunia, pada kemiskinan, ketidakadilan dan ketidakstabilan. Beberapa temuan spesifik adalah sebagai berikut:

Pada 40 persen dari negara-negara di dunia, pendapatan per kapita gagal tumbuh atau menyusut;
25 persen, jumlah penduduk dalam kemiskinan mutlak meningkat;
23 persen, harapan hidup menurun;
54 persen, orang mengalami stagnan pendapatan per kapita, meningkatnya kemiskinan, harapan hidup menurun, atau kombinasi dari peristiwa-peristiwa ini;
85 persen, pendapatan per kapita tumbuh 1% per tahun atau kurang pada 1990-an, dan
59 persen, tabungan bruto sebagai penentu persentase dari PDB yang rendah (kurang dari 10 persen) atau menurun. Tahun 1990, Bank Dunia mengadopsi "Tujuan menyeluruh" pengurangan kemiskinan. Pada tahun 1999, IMF menyatakan bahwa pengurangan kemiskinan, untuk selanjutnya, menjadi tujuan dari program tersebut juga. Namun, bukti kuat menggambarkan bahwa kebijakan mereka mengacaukan keberhasilan program pinjaman dengan bukti kenyataan di lapangan.

Jauh dari memajukan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dunia, “globalisasi” kenyataannya menunjukkan bentuk kapitalisme predator yang tak terkendali, yang telah membuka lebar perbedaan antara keuangan dan ekonomi riil di satu sisi, serta kaya dan miskin di sisi lain, dalam tatacara yang tidak dapat ditolerir, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Apa itu Perdagangan Islam?

Perdagangan Islam adalah perdagangan yang dilakukan di bawah Hukum Islam. Prasyarat terpenting untuk keberadaan perdagangan adalah keberadaan pasar Islam. Kunci karakteristik perdagangan Islam adalah keterbukaannya kepada setiap orang. Pasar Islam mengembalikan hak alami kepada setiap perorangan, yaitu hak untuk berdagang: setiap orang memiliki akses ke perdagangan bebas di tempat yang pas, seperti Pasar Islam atau Pasar Terbuka. Hak ini telah dengan cepat menghilang karena ada mal, supermarket dan hipermarket, dan telah menjadi hak istimewa dari beberapa orang. Misal, lima supermarket terbesar di Inggris mengendalikan 2/3 dari semua ritel.

Perdagangan tidak dapat eksis di tempat di mana supermarket mengendalikan eceran. Hak berdagang kita hanya dapat terpenuhi ketika ada pasar umum. Perdagangan memerlukan pasar-pasar dan tanpa pasar-pasar terbuka itu, perdagangan menjadi distribusi monopolistik.

Perdagangan Islam terbuka bagi semua: Muslim dan non-Muslim

Riba adalah penyakit dan perdagangan obat dari penyakit riba. Untuk mengembalikan kesehatan tidak cukup hanya dengan mengobati gejala, kita perlu mempromosikan gaya hidup sehat (pola makan yang baik, cukup olah raga), dari sebuah tubuh yang sehat. Mempromosikan perdagangan adalah cara efektif menghilangkan ketergantungan kepada riba. Mempromosikan perdagangan Islam akan menjadi cara positif untuk menghadirkan kembali Islam kepada jutaan korban kejahatan kapitalisme. Perdagangan Islam akan menjadi sebuah cara menyeru jutaan non-Muslim untuk melihat wajah baru Islam: Muamalat.

Aspek Lain dari Perdagangan Islam: Gilda

Perdagangan Islam adalah resep lengkap untuk merangsang dan mendorong kewirausahaan independen. Masyarakat Islam bukanlah masyarakat buruh. Pada masyarakat pra-kapitalis, Muslim telah hidup dan bekerja secara terorganisir dalam gilda. Menjadi bagian gilda adalah sebuah norma dalam masyarakat Muslim. Hubungan bisnis berkembang di dalam gilda (tanpa memerlukan bank) ditingkatkan dengan adanya infrastruktur yang digunakan bersama yang produktif dalam organisasi. Keinginan individu untuk mendirikan sendiri perusahaan baru dalam sebuah gilda dipandang sebagai hal yang positif.

Hubungan buruh / majikan diganti dengan muallim / mubtadi. Tiada ”kelas pekerja” di jaman gilda. Gilda secara historis dihilangkan dengan penghapusan hukum dan dengan menghilangkan hak-hak mereka dalam mendukung satu set baru hak Negara yang diberikan dan monopoli; dan juga akumulasi modal (uang kredit) di tangan swasta yang diproduksi oleh bank. Hari ini persaingan bebas dan akses gratis ke pasar yang tidak tersedia untuk semua, tidaklah dianggap sebagai masalah. Padahal perdagangan Islam menjamin hak yang sama bagi semua. Perdagangan Islam secara tegas akan membentuk kembali gilda, dan menantang sistem perusahaan modern yang didasarkan pada sistem "satu pemilik membawahi 14.000 karyawan". Ini akan mendorong model baru dari proses produksi terbuka (gilda), dimana produksi ini terbuka untuk ribuan pemilik kecil bebas yang saling terkait. Ini juga bagian dari kerangka yang lebih luas dari Inisiatif perdagangan Islam.

Mengenai hal ini, penting untuk menunjukkan bahwa khusus sejak awal tahun 1990-an, beberapa perusahaan telah memahami sebagian manfaat membagi proses produksi mereka menjadi unit-unit yang lebih kecil. Alih-alih satu struktur piramida dengan satu sumber keputusan, mereka melihat manfaat dari banyak unit otonom yang bekerja sama sementara bersaing di antara satu sama lain. Dengan demikian, Toyota sekarang mengklaim bahwa bukan hanya ada satu Toyota tetapi ribuan Toyota. Asea Brown Boveri, industri teknik raksasa milik Swedia dan Swiss, telah membagi dirinya menjadi 1300 perusahaan independen dan 5000 pusat-pusat laba otonom. Keberhasilan makmur mereka mendorong perusahaan lain untuk beradaptasi dengan prinsip yang sama. Kebijakan desentralisasi, meskipun kebijakan itu tampaknya langkah ke arah yang benar, adalah terbatas karena kebijakan itu semuanya telah dirancang oleh staf perusahaan. Staf perusahaan tidak bisa menyarankan pengambilan langkah utama yang akan menghilangkan struktur korporasi, atau dengan kata lain untuk memberikan kemandirian total kepada bengkel otonom, tidaklah dapat dilakukan. Hal itu hanya bisa terjadi jika bengkel kecil bisa memiliki akses yang sama ke pelanggan sebagaimana halnya Toyota sendiri. Untuk melakukan langkah tersebut kita memerlukan jaringan distribusi terbuka dan pasar gratis bagi semua orang. Hal-hal yang demikian semuanya adalah bagian dari perdagangan Islam.

Perdagangan Islam dapat merubah wujud uang, produksi dan distribusi yang semuanya ilusi, dengan menciptakan rancangan baru hukum kontraktual dan, mungkin yang terpenting, perdagangan terbuka, kepada segenap lapisan masyarakat. Perdagangan Islam terdiri dari prosedur, mekanisme dan institusi yang didasarkan kepada keadilan. Tetapi perdagangan Islam bukanlah urusan moral, melainkan realitas eksistensial. Perdagangan Islam bukan untuk menghakimi keyakinan batin Anda, tetapi hanya perilaku lahiriah jua dan akibat dari perbuatan Anda.

Alas dasar perdagangan Islam terdiri dari lima unsur:

•     Pasar Terbuka, Pasar yang terbuka bagi semua untuk berdagang.
•     Proses produksi terbuka, Produksi yang dapat diakses oleh semua.
•     Jaringan distribusi terbuka, Distribusi yang dapat diakses oleh semua.
•     Alat Tukar Bebas, Alat tukar yang bebas dipilih oleh semua.
•     Kontrak bisnis Islam, Kontrak yang menjamin perdagangan Islam.

Apa itu Pasar Islam?

Segera setelah tiba di Madinah al-Munawwarah, Nabi, salla’llahu ‘alaihi wa sallam, mendirikan dua lembaga, sebuah masjid dan sebuah pasar. Beliau menjelaskan bahwa pasar itu menjadi suatu ruang bebas yang diakses oleh semua orang, tanpa sekat-sekat (seperti toko-toko) tanpa pajak, retribusi atau sewa apapun yang boleh dikenakan di dalam pasar itu.

Pasar adalah Seperti Masjid

Rasul, salla’llahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Sunnah di Pasar sama dengan Sunnah di Masjid: siapa pun yang mendapatkan tempat pertama, memiliki hak untuk tetap di tempat itu, sampai ia bangkit dan kembali ke rumahnya atau selesai jualan nya. (suq al-muslimin ka-musalla l-muslimin, man sabaqa ila shay’in fa-huwa lahu yawmahu hatta yada‘ahu.)”. (Al-Hindi, Kanz al-’Ummal, V, 488, no. 2688)

Adalah Sedekah tanpa kepemilikan pribadi … Ibrahim bin al-Mundhir al Hizami meriwayatkan dari Abdallah bin Ja’far, bahwa Muhammad bin Abdallah bin Hasan berkata, “Rasul, salla’llahu ‘alaihi wa sallam, memberi Muslim Pasar, sebagai sedekah (tasaddaqa ‘ala l-muslimina bi-aswaqihim).” (Ibnu Shabbah, K. Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, 304)

tanpa pengenaan biaya sewa … Ibnu Zabalah meriwayatkan bahwa Khalid bin Ilyas al-’Adawi berkata, “Surat dari Umar bin Abd al-Aziz dibacakan kepada kami di Madinah, bahwa isinya Pasar adalah sedekah dan hendaknya tidak ada sewa yang dikenakan di dalamnya kepada siapapun (kira’).” (As-Samhudi, Wafa al-Wafa, 749)

tidak ada pajak yang dipungut... Ibrahim bin al-Mundhir meriwayatkan dari Ishaq bin Ja’far ibnu Muhammad, dari Abdallah bin Ja’far bin al-Miswar, dari Shurayh bin Abdallah bin Abi Namir, bahwa Ata’ bin Yasar berkata, “Ketika Rasul, salla’llahu ‘alaihi wa sallam, ingin mendirikan pasar di Madinah, beliau pergi ke pasar Bani Qaynuqa’ dan kemudian pergi ke pasar Madinah, menjejakkan kaki beliau di tanah dan bersabda, ‘Ini adalah pasarmu. Jangan biarkan berkurang (la yudayyaq), dan jangan biarkan pajak apapun (kharaj) dipungut.’” (Ibn Shabba, K. Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, 304)

Tidak ada pemesanan atau klaim yang dapat dibuat... Ibnu Zabalah meriwayatkan dari Hatim bin Isma’il bahwa Habib berkata bahwa Umar bin al-Khattab [suatu kali] melintas di gerbang Ma’mar di pasar dan [melihat bahwa] sebuah kendi diletakkan di gerbang dan beliau memerintahkan supaya kendi itu disingkirkan. … Khalifah Umar melarang bahkan menaruh sebuah batu pun dengan tujuan mengklaim tempat [dengan cara apapun] (an yuhajjir ‘alayha aw yahuzaha). (As-Samhudi, Wafa al-Wafa, 749)

tidak ada toko yang dibangun. Ibnu Shabbah meriwayatkan dari Salih bin Kaysan …bahwa …Rasul Allah, salla’llahu ‘alaihi wa sallam, …bersabda: ‘Ini adalah pasar kalian. Jangan membangun sesuatu dengan batu (la tatahajjaru) [padanya], dan jangan biarkan pajak apapun (kharaj) di pungut’” (As-Samhudi, Wafa al-Wafa, 747-8) Abu r-Rijal meriwayatkan dari Isra’il, dari Ziyad bin Fayyad, dari salah seorang Syaikh di Madinah bahwa Umar bin al Khattab, radiya’llahu ‘anhu, melihat sebuah toko (dukkan) yang dibangun oleh seseorang di pasar dan beliau merubuhkannya. (Ibnu Shabbah, K. Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, 750)

Tanpa Pasar Terbuka, Tidak ada Perdagangan Hal pertama adalah bahwa kita perlu membedakan antara perdagangan dan distribusi monopolistik. Supermarket tidak membolehkan terjadinya perdagangan, tidak seorangpun boleh pergi ke supermarket untuk berdagang. Produk-produk yang tiba di supermarket telah dibeli oleh supermarket atau sesuai sistem distribusi yang disepakati dengan produsen3. Barang berasal dari gudang yang mendistribusikan barang itu ke jaringan supermarket di seluruh negara. Barang tiba di gudang dari produsen atau gudang lainnya, dari mana barang itu awalnya dibeli. Ini bukan perdagangan, ini adalah distribusi monopolistik.

Bukti yang paling jelas bahwa perdagangan telah menghilang adalah bahwa tidak ada kafilah / karavan lagi. Kafilah adalah suatu lembaga perdagangan. Tidak bisa ada kafilah berjalan jika tidak ada tempat untuk pergi berjualan. Jika tidak ada pasar maka tidak akan ada kafilah. Oleh karena itu jika tidak ada pasar maka tidak ada perdagangan.

Untuk menciptakan perdagangan kita perlu menciptakan Pasar Islam atau Pasar Terbuka.

Perdagangan Islam menghasilkan “kekayaan baru”.
Perdagangan itu sendiri adalah sumber kekayaan.

Rasulullah, salallahu alayhi wa sallam, bersabda: “9 dari 10 pintu rejeki datang dari perdagangan”. Hal tersebut seperti halnya berkata 9 dari 10 penciptaan kekayaan datang dari perdagangan. Jika perdagangan ini begitu penting bagi kita, jelas bahwa mempertahankan perdagangan adalah penting. Mengingat bahwa perdagangan tidak mungkin dilakukan tanpa adanya pasar, kita dapat menyimpulkan bahwa kita telah menghilangkan 9 dari 10 pintu rezeki kita. Membangun kembali perdagangan harus menjadi prioritas dari setiap pemerintah yang bertanggung jawab, dan ini utamanya berarti pembentukan jaringan Pasar Islam.

Kita sayangnya hidup di zaman di mana orang tidak menganggap perdagangan sebagai sesuatu yang penting. Akibatnya para ekonom menyimpulkan bahwa pedagang harus dihilangkan dari ekonomi demi mendukung distributor: supermarket didorong pendiriannya sementara pasar tua ditutup.

Hasil lain dari filosofi ini adalah bahwa pedagang betulan dilemparkan ke jalan tanpa prasarana untuk mendukung mereka (pasar jalanan), sementara bankir (pelaku riba) duduk di istana-istana. Kebalikan dari keadaan ini adalah tatacara hidup Islam. Umar bin al-Khattab, radiallahu anhu, memperlakukan para pedagang yang datang ke Madinah, sebagai para tamu beliau. Akibatnya, semua budaya Islam telah memperlakukan para pedagang dengan penghargaan yang besar, membangunkan untuk para pedagang pasar-pasar serupa istana untuk berdagang. Lihatlah sebagai contoh, pasar Istanbul, Samarkand atau Isfahan. Di masa lalu para pedagang ada di istana-istana sementara para pelaku riba di jalanan dikejar oleh petugas keamanan. Hari ini yang berlaku adalah kebalikannya.

Para pedagang adalah sumber kekayaan bagi kita dan infrastruktur yang memadai hendaknya diberikan kepada mereka. Infrastruktur yang memadai ini disediakan oleh Pasar Islam.

Hal yang penting adalah bahwa Dinar Islam yang diasosiasikan kepada perdagangan Islam dapat membangkitkan kekayaan baru dengan orang-orang dalam masyarakat yang ditolak oleh sistem ekonomi. Dinar Islam dapat membangkitkan kekayaan baru dengan menolak ekonomi yang saat ini berlaku, yang demikian itu adalah ekonomi nyata. Sudah menjadi nasib dari Dinar Islam dan ekonomi nyata dapat hidup jika diikat bersama menggunakan tali perdagangan Islam.

Blok Perdagangan Islam

Penerapan perdagangan Islam memiliki realitas politik maksimal dalam pendirian blok perdagangan Islam. Pendirian blok perdagangan Islam akan memiliki tiga kondisi:

1. Harus didasarkan pada penggunaan MATA UANG SYARIAH sebagai mata uang ketimbang penciptaan mata uang lain yang masih kertas-kertas juga.
2. Harus diperkenalkan secara bertahap dan hendaknya ditawarkan sebagai pilihan kepada komunitas Muslim
3. Harus disertai dengan pendirian infrastruktur perdagangan berbasiskan Pasar Islam.

Mekanisme Inti Blok Perdagangan Islam

Mekanisme minimal yang dapat menjamin pertumbuhan berlanjut dan terus-menerus dari penggunaan Dinar Islam sebagai mata uang terdiri dari tiga unsur yaitu Sistem Pembayaran, Jaringan Pasar dan Investasi (qirad).